Pagi itu mentari belum sepenuhnya meninggi ketika langkah tim Lazismu memasuki lingkungan Muhammadiyah Boarding School Mataram (MBS UMMAT). Di halaman sekolah, tawa anak-anak masih terdengar riang,mereka baru saja keluar untuk bermain. terlihat ada yang sedang bersenda gurau, ada yang bermain perosotan, ada juga yang bermain ayunan. Namun pagi itu, keceriaan mereka akan bertemu dengan kisah duka dari tanah jauh bernama Aceh dan Sumatera.
Setibanya di sekolah, tim Lazismu langsung berkoordinasi dengan pihak MBS UMMAT untuk membicarakan mekanisme kegiatan pagi itu. Tak lama kemudian, anak-anak dikumpulkan di aula lantai dua. Satu per satu mereka melangkah masuk dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Aula yang biasanya menjadi ruang belajar dan berkumpul, pagi itu menjadi ruang empati.
Jawaban polos itu terasa begitu jujur lahir dari kesadaran kecil tentang tanggung jawab besar terhadap alam.
Anak-anak kemudian diperlihatkan gambaran nyata dampak bencana. Layar menampilkan rumah-rumah yang hilang, jalan yang terputus, dan wajah-wajah penyintas yang bertahan di tengah keterbatasan. Suasana aula mendadak hening. Tawa pagi berganti keheningan yang penuh rasa iba.
Satu per satu anak-anak maju ke depan. Ada yang menyerahkan donasi dengan antusias, ada pula yang menyelipkannya dalam amplop. Di luar amplop itu, tertulis pesan-pesan singkat, sederhana, namun mampu meneteskan air mata siapa pun yang membacanya.
Ada pula pesan penuh cinta bertuliskan, “I Love Sumatera,” dengan gambar hati di sampingnya sebuah ungkapan duka dari hati kecil yang belajar peduli.
Surat-surat lain berisi doa untuk mereka yang hilang agar segera ditemukan, serta harapan agar yang wafat mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.
Pagi itu, dari aula lantai dua MBS UMMAT, lahir pelajaran berharga : bahwa kepedulian kepada sesama bisa diajarkan sejak dini, dan kepedulian tak menunggu dewasa. Dari tangan-tangan kecil itu, harapan pun mengalir menuju Aceh dan Sumatera, membawa pesan bahwa mereka tidak sendiri.




Posting Komentar