Muhammadiyah Serukan Aksi Kemanusiaan Untuk Korban Bencana Banjir & Longsor

Bencana banjir dan longsor yang menerjang sejumlah wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mendorong Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) mengaktifkan status tanggap darurat nasional di lingkungan Persyarikatan. Menyikapi situasi kemanusiaan yang semakin meluas, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menerbitkan Edaran Nomor 8/EDR/I.0/H/2025 yang menyerukan seluruh unsur Muhammadiyah, pimpinan wilayah, daerah, cabang, organisasi otonom, amal usaha, serta warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia untuk menggerakkan solidaritas dan bantuan kemanusiaan guna membantu penyintas bencana.

Begitu juga Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTB juga telah menerbitkan edaran Nomor 203/INS/II.0/D/2025, menginstruksikan kepada pimpinan persyarikan tingkat daerah, organisasi otonom dan amal usaha tingkat wilayah untuk melakukan penggalangan bantuan kemanusiaan korban bencana banjir & longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara & Sumatera Barat melalui satu pintu yakni Lazismu sehingga seluruh proses penghimpunan dan penyaluran bantuan berjalan terpadu dan sejalan dengan semangat One Muhammadiyah One Response (OMOR).

Ketua PP Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman, menegaskan bahwa bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatra membutuhkan respons terpadu dan kecepatan tindakan. “Gerakan solidaritas nasional harus digerakkan secara maksimal agar bantuan dapat menjangkau para korban tepat waktu dan merata,” demikian pernyataannya dalam rilis resmi PP Muhammadiyah. Gerakan kemanusiaan Muhammadiyah kini berada dalam skema One Muhammadiyah One Response (OMOR), sebagai langkah penyatuan arah penanggulangan bencana agar efektif, terukur, dan saling terkoordinasi lintas elemen Persyarikatan.

Sementara itu, Ketua Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) MDMC, Budi Setiawan, menjelaskan bahwa curah hujan ekstrem, anomali cuaca, serta kerentanan lingkungan telah menyebabkan banjir dan longsor dalam skala luas. Beberapa titik di Sumatera Barat disebut mengalami tingkat kerusakan luar biasa, mengharuskan perhatian nasional dan dukungan menyeluruh dalam percepatan pemulihan. Untuk tahap awal, MDMC memprioritaskan evakuasi, pencarian korban, pendistribusian bantuan logistik, layanan kesehatan, serta pendampingan psikososial bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyintas yang mengalami trauma.

Dalam pelaksanaan lapangan, relawan MDMC telah dikerahkan ke sejumlah titik terdampak, termasuk Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan di Sumatera Utara. Posko bantuan MDMC dan Muhammadiyah juga telah dibuka di Sumatera Barat, sementara koordinasi dengan lembaga kemanusiaan lokal terus diperkuat untuk menjangkau wilayah yang masih terisolasi akibat rusaknya akses jalan dan komunikasi. Pendataan kebutuhan mendesak terus diperbarui agar penyaluran bantuan dapat berlangsung tepat sasaran.

Muhammadiyah mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memperkokoh solidaritas kemanusiaan melalui bantuan logistik, donasi kemanusiaan, keterlibatan relawan, maupun penyebaran informasi terpercaya mengenai jalur resmi penyaluran bantuan. Semangat gotong-royong menjadi kunci pemulihan bagi ribuan warga yang saat ini kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan sumber penghidupan.

MDMC menegaskan bahwa penanganan bencana ini bukan hanya tentang penyelamatan fisik, tetapi juga memastikan penyintas tidak menghadapi krisis lanjutan setelah bencana. Oleh karena itu, pendampingan jangka menengah dan panjang akan terus dilaksanakan hingga masyarakat pulih secara sosial, ekonomi, dan psikologis.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama