Muhammadiyah NTB Kembali Bergerak, 15 Relawan Dikirim Pulihkan Warga Pascagempa NTT

Relawan Muhammadiyah NTB

Inside-Mu. Mataram (03/09/2026) — Ketika sebagian masyarakat Nusa Tenggara Timur masih berjuang bangkit dari dampak gempa bumi, Muhammadiyah Nusa Tenggara Barat kembali bergerak. Sebanyak 15 relawan kemanusiaan diberangkatkan untuk melanjutkan misi pemulihan dan pendampingan masyarakat terdampak.

Melalui sinergi LAZIS Muhammadiyah dan Lembaga Resiliensi Bencana/Muhammadiyah Disaster Management Center (LRB/MDMC) Wilayah NTB, tim relawan tahap kedua ini akan menjalankan misi rehabilitasi dan rekonstruksi selama kurang lebih 35 hari yang mulai bertugas  sejak 3 September hingga 5 Oktober 2026.

Bagi Muhammadiyah NTB, pengiriman relawan ini bukan sekadar perjalanan dari satu pulau ke pulau lainnya. Mereka membawa tenaga, waktu, kepedulian, serta harapan bagi masyarakat yang sedang berupaya membangun kembali kehidupannya setelah bencana.

Melanjutkan Misi Kemanusiaan

Pengiriman 15 relawan tersebut merupakan respons lanjutan Muhammadiyah NTB terhadap bencana gempa bumi di NTT. Sebelumnya, pada tahap pertama, Muhammadiyah NTB telah menurunkan 12 relawan yang berasal dari Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bima, LAZISMU Kabupaten Bima, dan MDMC Wilayah NTB.

Tahap kedua menjadi bagian dari kesinambungan gerakan kemanusiaan. Muhammadiyah NTB tidak hanya hadir pada saat bencana terjadi, tetapi berupaya untuk terus mendampingi masyarakat hingga memasuki fase pemulihan.

Relawan yang diberangkatkan kali ini merupakan tim gabungan MDMC dan LAZISMU. Mereka akan terlibat dalam berbagai program rehabilitasi dan rekonstruksi sesuai kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.

Membawa Bantuan, Menguatkan Harapan

Selain personel relawan, Muhammadiyah NTB juga mengirimkan bantuan logistik untuk masyarakat terdampak. Bantuan tersebut terdiri atas 100 paket Family Kit, 100 paket School Kit, puluhan terpal, tikar, selimut, serta berbagai kebutuhan pangan lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat terdampak.

Seluruh bantuan dihimpun dan disalurkan melalui kolaborasi program kemanusiaan dalam jaringan LAZIS Muhammadiyah.

Di tengah keterbatasan penghimpunan dana, semangat kolaborasi menjadi kekuatan tersendiri. Hingga saat ini, donasi yang berhasil dihimpun LAZISMU se NTB berkisar Rp98 juta.

Namun melalui sinergi berbagai program dan jejaring Muhammadiyah / Aisyiyah, nilai bantuan logistik yang berhasil dipersiapkan untuk masyarakat terdampak diperkirakan mencapai lebih dari Rp200 jutaan.

Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa kekuatan gerakan kemanusiaan tidak selalu hanya ditentukan oleh jumlah dana yang terkumpul. Kolaborasi, jejaring, kepercayaan, dan semangat gotong royong mampu memperbesar dampak bantuan yang diterima masyarakat.

Datang untuk Melayani

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTB, Dr. Ruslan Abdul Gani, MH, dalam sambutannya saat pelepasan relawan, mengingatkan bahwa tugas kemanusiaan tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis.

Lebih dari itu, para relawan diminta membawa sikap, akhlak, dan cara berinteraksi yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan.

Dr. Ruslan menekankan pentingnya menjaga sikap serta menghormati adat istiadat masyarakat setempat.

“Relawan Muhammadiyah harus hadir dengan keramahan. Layani masyarakat terdampak dengan senyuman dan sikap yang baik. Hormati adat istiadat dan budaya masyarakat setempat,” pesannya.

Ia juga mengajak para relawan untuk membantu masyarakat melihat musibah tidak hanya dari sisi kehilangan dan kesedihan. Menurutnya, di tengah bencana selalu muncul kepedulian. Ketika masyarakat menghadapi kesulitan, banyak orang dari berbagai daerah datang tanpa diminta untuk membantu.

“Musibah ini juga memperlihatkan kasih sayang Tuhan. Di tengah kesulitan, kita melihat semakin banyak saudara dari berbagai penjuru yang datang dan peduli kepada masyarakat NTT,” ujarnya.

Satu Tim, Satu Visi

Ketua LAZISMU NTB, Wiryandinata, menekankan pentingnya menjaga kekompakan selama menjalankan misi kemanusiaan.

Menurutnya, perbedaan latar belakang dan tugas di dalam tim harus menjadi kekuatan untuk mencapai satu tujuan bersama, yakni membantu masyarakat terdampak bangkit dan pulih.

“Relawan harus tetap kompak dan memiliki satu visi. Kita datang untuk membantu memulihkan kondisi masyarakat terdampak semaksimal mungkin,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa misi kemanusiaan yang padat tidak boleh membuat relawan mengabaikan kekuatan spiritual.

“Kesibukan di lapangan tentu akan tinggi, tetapi ibadah tetap harus dijaga dan dilaksanakan tepat waktu. Kekuatan seorang relawan tidak hanya berasal dari fisiknya, tetapi juga dari kekuatan spiritualnya,” ujarnya.

Pesan terakhir yang disampaikan kepada para relawan sederhana, tetapi memiliki makna besar.

“Kehadiran kita harus memberikan harapan. Masyarakat NTT harus merasakan bahwa mereka tidak sendiri. Kita datang membawa kepedulian, persaudaraan, dan kabar bahagia,” kata Wiryandinata.

Tidak Sekadar Membawa Logistik

Keberangkatan 15 relawan Muhammadiyah NTB kali ini membawa pesan bahwa respons bencana tidak berhenti ketika bantuan pertama tiba.

Fase rehabilitasi dan rekonstruksi membutuhkan waktu yang lebih panjang, tenaga yang lebih besar, serta komitmen untuk terus mendampingi masyarakat. Karena itu, misi tahap kedua ini bukan hanya tentang jumlah relawan atau nilai bantuan yang dibawa.

Di balik 15 orang yang berangkat dari NTB menuju NTT, terdapat jaringan kepedulian yang lebih besar: para donatur, relawan, institusi Muhammadiyah/Aisyiyah, serta masyarakat yang percaya bahwa penderitaan sesama adalah panggilan untuk bergerak bersama.

Selama kurang lebih 35 hari ke depan, para relawan akan menjalankan tugas kemanusiaan dengan satu tujuan yang sama: membantu masyarakat terdampak untuk bangkit, pulih, dan kembali menata kehidupan.

Muhammadiyah NTB kembali bergerak. Bukan sekadar membawa bantuan, tetapi membawa pesan bahwa di tengah musibah, masyarakat NTT tidak pernah berjalan sendirian. (rhm)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama