Langkah awal dilakukan dengan membangun koordinasi bersama berbagai pihak di wilayah terdampak. Muhammadiyah kemudian mendirikan Pos Koordinasi Wilayah yang berpusat di Klinik Muhammadiyah Ende, Jalan Mahoni, Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende.
Pos Koordinasi Wilayah tersebut menjadi pusat pengelolaan respons kemanusiaan, mulai dari perencanaan, koordinasi, hingga evaluasi layanan di lapangan. Hingga saat ini, Muhammadiyah telah membentuk tujuh Pos Koordinasi Daerah yang tersebar di tujuh kabupaten terdampak, serta mendirikan 10 Pos Pelayanan untuk mendukung pelayanan langsung kepada masyarakat.
Melalui program Indonesia Siaga, respons kemanusiaan Muhammadiyah difokuskan pada tiga klaster utama, yakni layanan kesehatan, layanan nonkesehatan, serta layanan logistik.
Pada klaster kesehatan, layanan melalui Emergency Medical Team (EMT) Type-1 Fixed dan EMT Mobile telah menjangkau sebanyak 3.702 penyintas gempa bumi, yang terdiri atas 2.215 perempuan dan 1.487 laki-laki.
Sementara pada klaster nonkesehatan, berbagai layanan juga terus diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar sekaligus membantu pemulihan masyarakat terdampak. Dapur umum Muhammadiyah tercatat telah melayani 1.750 jiwa. Selain itu, layanan sanitasi dan air bersih telah dibangun di dua titik, sedangkan layanan psikososial telah diberikan kepada 1.773 jiwa penyintas.
Dukungan terhadap masyarakat terdampak juga diperkuat melalui distribusi berbagai kebutuhan logistik. Bantuan yang disalurkan antara lain berupa mobil dapur umum, mobil taktis, 500 paket family kit, 600 paket school kit, 1.440 kaleng Rendangmu, serta terpal sepanjang 500 meter.
Selain bantuan kebutuhan dasar, dukungan logistik untuk pelayanan medis juga terus diberikan oleh tim medis atau EMT Mobile dari sejumlah Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang bertugas di wilayah terdampak.
Direktur Utama Lazismu, Barry Adhitya, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung keberlangsungan aksi kemanusiaan Muhammadiyah di NTT.
“Kami apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh relawan Muhammadiyah di lapangan atas kerja-kerja kemanusiaan dan tentu terima kasih kepada donatur dan jamaah salat Jumat atas kepercayaannya sehingga aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah kepada penyintas bencana di NTT dapat terus dilanjutkan,” kata Barry Adhitya pada Jumat (4/9/2026).
Lazismu juga memastikan program Indonesia Siaga di NTT akan terus dipantau dan dievaluasi secara berkala. Langkah tersebut dilakukan agar dana yang dihimpun dari masyarakat dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung proses pemulihan masyarakat pascagempa.
Dukungan tersebut diharapkan tidak berhenti pada masa tanggap darurat, tetapi dapat berlanjut hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Dengan demikian, aksi kemanusiaan Muhammadiyah dan Lazismu diharapkan turut membantu masyarakat NTT bangkit sekaligus membangun ketangguhan dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
.jpeg)
Posting Komentar